Mengapa Rasulullah Berbangsa Arab?


Merupakan sebuah kenyataan tatkala kita mempelajari sejarah permulaan Islam, Allah memilih Muhammad yang dikemudian hari diangkat menjadi Penutup para Rasul dari keturunan Arab. Wilayah kekuasaannya juga berawal dari Arab. Bermula dari Mekkah, kemudian hijrah ke Madinah, dan menyebarlah cahaya Islam itu keseluruh penjuru dunia. Sebagian orang yang tidak suka dengan Islam mempertanyakan kenapa Rasul mesti dari Arab? Bahkan ada yang mencoba meragukan dan menyamarkan tentang hal tersebut sehingga menebarkan informasi-informasi bahwasanya Islam dibatasi oleh teritorial, sehingga muncullah istilah-istilah Islam lokal, Islam nusantara, Islam Arab dan beragam lainnya. Inilah yang menjadi alasan penting untuk kita ketahui, mengapa Rasul harus dari Arab.

Harapan Yahudi
Mari kita melirik firman Allah dalam surat Al An’am ayat 124.


Ayat ini menyuguhnya pelajaran-pelajaran mahal, diantaranya adalah merupakan suatu keridhaan Allah untuk memilih Rasul dari bangsa apapun yang Dia kehendaki. Hanya Allah yang memiliki hak untuk memilih siapakah yang akan mejadi utusan-Nya. Tak ada sesuatu apapun yang dapat ikut mencampuri pilihan Allah. Tugas kita adalah mengikuti dan mentaati-Nya. Maka tidak bernar jika ada yang menggugat kenapa Rasul kita orang Arab. 
Jika kita menilik kembali sejarah orang-orang Yahudi yang berada di kota Madinah dan Khaibar disaat itu, sesungguhnya mereka sedang menanti kehadiran Nabi terakhir yang ciri-cirinya telah disebutkan dalam kitab suci mereka. Namun, apa hendak dikata ketika Allah memilih penutup Nabi berasal dari bangsa Arab. Hal ini menjadikan mereka mereka terkejut dan tidak bisa menerimanya. Sebagaimana Nabi-Nabi terdahulu, mereka sangat berharap Nabi terakhir juga berasal dari keturunan Nabi Ishaq a.s.

Karakter Arab Badui
Secara terminologi kata ‘arab menunjukkan bahasa, ‘a’rab menunjukkan kaum Arab Badui. Secara sosiokultural karakter masyarakat Arab badui, disebutkan Allah swt dalam surat At-Taubah ayat 97.



Ayat diatas menunjukkan karakter asli dari masyarakat Arab badui, sebagaiman kita ketahui, untuk urusan yang sangat sepele seperti tersenyum merupakan suatu hal yang aneh dan sulit bagi mereka. Sehingga Rasulpun perlu mengajari mereka tentang hal ini sebagaimana yang terekam dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.


Masyarakat Badui juga dikenal sangat enggan untuk mencium anak-anak mereka. Hal ini tergambar dari kisah ketika seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah tatkala sedang bercengkrama dengan cucu-cucu nya. Orang Badui pun bertanya “apa yang kau lakukan? Engkau menciumi anak-anak kecil juga?” tentu pertanyaan yang mengherankan. Rasulullah menjawab dengan bertanya, “apakah engkau tidak memiliki anak?” Arab Badui menjawab, “Aku punya sepuluh orang anak, tapi Aku belum pernah mencium mereka”. Maka Nabi saw berkata, “pulang dan cium anak-anakmu!, Aku khawatir rahmat dicabut dari hatimu”.
Dalam hal etika berkomunikasi, para sahabat selalu memanggil Rasul dengan nada suara yang santun, mereka tidak melupakan gelar Rasulullah ataupun Nabiyullah ketika menyebut Muhammad. Berbeda halnya dengan masyarakat Arab Badui, mereka mudah saja memanggil Rasulullah dengan nada tinggi, “hai Muhammad, hai Muhammad!”. Sungguh tak beretika.
Bandingkan dengan masyarakat kita, walaupun saat ini kita mengalami degradasi moral, namun untuk kebaikan-kebaikan yang sederhana masih membudaya. Kita bisa tersenyum kepada siapa saja bahkan kepada orang yang baru dikenal sekalipun tanpa perlu diajari. Kita juga sering mencium dan bercengkarama dengan anak-anak dan cucu-cucu kita, ini merupakan kebaikan yang lumrah dan sering kita jumpai dalam keseharian. 

Hikmah Rasul berbangsa Arab
Apa yang menjadi korelasi antara surat At-Taubah ayat 97 dengan pertanyaan, "Mengapa Rasul lahir dari Arab?" Ketika Allah menyebut bahwa orang-orang Arab Badui adalah orang-orang yang paling kafir, munafik dan tidak mengetahui hukum-hukum Allah, hal ini mengandung pelajaran bahwasanya syariat Islam ini telah terbukti berhasil mengubah masyarakat Badui yang memiliki karakter yang rusak, terbelakang dan tidak tahu aturan sehingga kemudian menjadi masyarakat diselumuti cahaya iman dan beradab, bahkan diantara mereka muncul para pemimpin-pemimpin hebat dalam sejarah Islam. Dengan demikian, maka ketika syariat Islam ini terbukti berhasil memperbaiki masyarakat yang paling rusak maka tentu akan lebih mudah mengubah masyakarat yang tidak serusak mereka.
Jika ingin menjadikan negeri ini baik tentulah dengan Islam, karena tidak ada yang tidak bisa diperbaiki oleh aturan-aturan Allah swt. Kalau kita ridha Indonesia diatur oleh syariat Islam, maka akan terjadi perubahan yang jauh lebih mudah dibandingkan usaha yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengubah karakter masyarakat Arab Badui. Karena pada intinya syariat Allah akan mampu memberbaiki, mampu mengubah dan kemudian menunjukkan jalan manusia menjadi lebih baik, mengubah manusia yang memuliakan manusia menjadi manusia yang memuliakan Allah swt, mampu mengubah masyarakat yang kafir, munafik dan tidak mengetahui atuara-aturan Allah menjadi masyarakat yang tulus beriman dan berjalan di atas syariat Allah swt. Wallahua’lam.

*Tulisan ini terinspirasi dari kajian ust. Budi Ashari tentang Shirah Nabawiyah.

Menuai Hikmah Ramadhan



Surat Al Baqarah ayat 183 turun pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriah. Ayat ini merupakan dasar penetapan hukum untuk melaksanakan puasa dibulan Ramadhan. Jika dihitung sejak tahun kenabian, maka kewajiban untuk puasa menjadi bagian dari syariat setelah 13 tahun fase Mekkah ditambah dua tahun setelah hijrah ke Madinah. Tiga belas  tahun periode dakwah Mekkah bukanlah waktu yang singkat, dalam kurun waktu ini Rasul menempa para sahabat untuk menyemat titel orang-orang beriman. Sebagaimana kita ketahui ayat-ayat Al Quran yang turun di Mekkah merupakan ayat-ayat yang berkenaan dengan aqidah dan keimanan, sedangkan ayat-ayat turun di Madinah sebagian besarnya merupakan ayat-ayat tentang syariat. Dengan demikian dibutuhkan persiapan selama 15 tahun lamanya untuk menerima wahyu tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan yang diawali dengan panggilan mulia, “wahai orang-orang beriman”.

Jika diamati lebih lanjut, 15 tahun merupakan waktu rata-rata para pemuda mengalami masa baligh. Ini sebenarnya merupakan pelajaran berharga dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. Ketika kita mampu mendidik dan menanamkan aqidah dan keimanan yang benar untuk anak-anak kita semenjak usia 0 sampai dengan 15 tahun maka dipastikan sang anak akan mampu melaksanakan syariat-syariat Allah dengan baik dan benar kelak setelah usianya 15 tahun, namun sebaliknya jika diusia baligh tersebut anak-anak cenderung berprilaku negatif dan destruktif, ini merupakan indikasi adanya kesalahan dalam sistem pendidikan kita. Tatkala persoalan aqidah diabaikan, syariatpun akan terasa sebagai beban. Kesalahan dan kesesatanpun akan menjamur bersebab fondasi tidak tertanam dengan kokoh dan kuat.

Selanjutnya, dalam ayat 185 surat Al Baqarah disebutkan “…dan hendaklah kamu memyempurnakan bilangannya…”. Kata-kata menyempurnakan ini merupakan perintah dan mengandung makna yang komprehensif. Allah tidak meminta kita untuk menyelesaikan puasa Ramadhan, akan tetapi menyempurnakan. Kedua kata ini hampir serupa namun memiliki makna yang jauh berbeda. Ibarat dalam dunia pendidikan, lulus asal sekedar lulus bisa kita sebut selesai, tetapi jika mau sempurna lulus haruslah dengan waktu yang tepat dan nilai yang tinggi.

Sejarah mencatat, Ramadhan perdana yang dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat sarat akan ujian. Ditandai dengan perang besar pertama antara muslimin dan kafir Quraisy. Kita mengenalnya sebagai perang Badar. Perang yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 hijriah. Pada dasarnya kaum muslimin tidak dalam kondisi siap untuk berperang, karena tujuan ke lembah Badar awalnya bukanlah untuk berperang, melainkan mencegat dan merebut kafilah dagang kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan sebagai pengganti harta kaum muslimin yang dijarah dengan paksa oleh kaum Quraisy di Mekkah. Rasulullah menuju lembah Badar ditemani oleh 314 orang sahabat dan membawa 70 ekor unta. Setiap unta ditunggangi bergantian oleh dua atau tiga orang sahabat. Takdir Allah, niat kaum muslimin tercium oleh kafilah dagang Quraisy yang kemudian mengirimkan pesan kepada pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekkah untuk berperang. Tak seorangpun tokoh-tokoh penting Quraisy alpa ditengah seribuan personil yang mereka kerahkan. Jika bukan karena keimanan maka kaum muslimin telah putus asa dan terpecah belah sebelum peperangan berlangsung. Kekhawatiran kaum muslimin ini dihiasi munajat.  Allah pun menjawab doa-doa mereka sebagaimana terebut dalam surat Al Anfal ayat 9, dengan mengirimkan 1000 malaikat yang datang berturut-turut.

Peristiwa menarik lainnya terjadi ketika Ramadhan ke 7 yang dilaksanakan Rasulullah, tepatnya pada 10 hari terakhir Ramadhan tahun 8 hijriah, dihari itu terjadi peristiwa besar dalam sejarah, yaitu Fathu Mekkah. Peristiwa Pembebasan Kota Mekkah tersebut terekam begitu indah dalam surat Al Fath dan An-Nasr. Ada dua tujuan utama peristiwa Fathu Mekkah tersebut, pertama adalah membersihakan Ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin dari berhala-berhala dan kemusyrikan dan juga menebar hidayah kepada masyarakat kota Mekkah disaat itu. Jadi kemenangan terbesar sesungguhnya adalah kemenangan tauhid dan tatkala manusia berbondong bondong mendapat hidayah. 

Kedua peristiwa ini, jika kita bandingkan menjadi grafik yang menarik. Bahwa di tahun pertama Ramadhan, kaum muslimin tidak memiliki kesiapan dan kekuatan, namun bersebab berada di bulan yang mulia akhirnya Allah berikan kemenangan. Begitu juga di tahun 8 hijriah tatkala kekuatan kaum muslimin berada di puncak, mereka 10 ribu kaum muslimin bergerak dan madinah menuju pembebasan kota Mekkah, Allah juga memberikan kemenangan yang sempurna. Ternyata dalam kondisi lemah, tidak siap atau bahkan dalam kondisi kekuatan yang memuncak Allah akan tetap memberikan kemenangan, jika dalam bulan Ramadhan. 

Peristiwa Badar dan Fathul Mekkah merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam, namun sebagian besar ulama menyebut peristiwa Fathu Mekkah lebih besar dari peristiwa Badar. Hal ini menunjukkan bahwa grafik kebaikan yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat kian meningkat seiring waktu. Bandingkan dengan kita yang hidup di akhir zaman ini? Bagaimana ukuran kebaikan dan amal yang kita peroleh disetiap Ramadhan yang telah kita lalui? Adakah peningkatan ataupun justru sebaliknya. Semoga kita mampu meningkatkan grafik kebaikan dan amalan kita di bulan Ramadhan yang akan akan segera bersua, amin.

Keberkahan sang Pemimpin



Sebelas abad yang lalu, ketika Andalusia mencapai puncak kejayaan di Eropa, umat Islam memiliki sosok pemimpin sekaligus mujahid yang dikenal alim, shalih dan adil yang memimpin dalam waktu yang lama. Ia adalah seorang khalifah yang menyadari betul bahwa kepemimpinannya akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt sehingga menghabiskan waktu untuk menyelesaikan persoalan yang timbul dalam kehidupan rakyat, dan lingkungan di daerah kekuasaannya. Di atas meja kerja sang khalifah tersimpan catatan pribadi yang terukir dalam sejarah menjadi salah satu catatan yang fenomenal, 50 tahun masa kepemimpinannya bukan merupakan hari-hari yang nyaman untuknya, kecuali hanya 12 hari saja. Sosok Khalifah ini telah membawa negeri yang beribukota Cordoba ke puncak kemakmuran dan kesejahteraannya, sehingga tak sedikit bangsa Eropa yang datang dan belajar kesana. Khalifah tersebut adalah Abdurrahman An-Nashir. Dalam masa kepemimpinannya, Ia juga telah mengangkat sosok-sosok yang shalih untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, semisal Munzir ibn Said Al-Baluthi yang diangkat menjadi qadhi kota Andalusia.

Suatu ketika wilayah Andalusia mengalami kekeringan akibat hujan yang tak kunjung tiba. Tanah-tanahnya mulai retak, para petani harus menggantung cangkulnya karena tak ada air untuk mengairi sawah dan kebun mereka. Ditengah kemarau yang panjang itu, sang Khalifah berupaya untuk mencari solusi. Ia memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan shalat Itisqa guna memohon turunnya hujan. Sang Khalifah menunjuk Munzir ibn Said Al-Baluthi untuk menjadi imam dan khatib. Di hari yang disepakati, rakyat mulai hadir dan memadati dilapangan tampat pelaksanaan shalat isitisqa, namun prosesi shalat belum juga dimulai karena sang khalifah yang ditunggu belum hadir. Salah seorang warga diutus oleh Munzir ibn Said Al-Baluthi menemui Khalifah untuk menyatakan bahwa rakyat telah berkumpul dan siap melaksanakan shalat istisqa. Tak lama kemudian Ia kembali dan menyampaikan kepada qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi, “Aku melihat Khalifah sedang dalam keadaan sujud yang sangat lama. Belum pernah aku melihat Khalifah berdoa kepada Allah sekhusyu itu”. Qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi yang sangat mengenal karakter dan kepribadian sang khalifah memerintah salah seorang jamaah untuk mengambilkan payung. Ia pun berkata dengan penuh keyakinan, “Demi Allah hujan akan segera tiba, kalau pemimpin di muka bumi ini khusyu hatinya, tunduk pada Allah, bukan orang yang angkuh dalam syariat ini, maka pasti Sang penguasa hujan (Allah Swt.) akan menurunkan rahmatNya”. Tak berselang lama hujanpun turun membasahi tanah Andalusia.

Kita meyakini, dalam membangun sebuah negeri yang makmur dan berkeadilan, tak hanya dibutuhkan seorang pemimpin yang alim dan shalih, tetapi juga dibutuhkan sosok-sosok rakyat yang shalih, dan ringan tangan dalam mengawal kepemimpinan sang khalifah. Sosok yang tegas diatas kebenaran dan tidak mau mempermainkan syariat. Sejarah mencatat bahwa sosok seperti qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi pernah menyampaikan nasehat dengan tegas sehingga membuat khalifah tersinggung. Namun bagi sang qadhi, ini bukan menjadi persoalan karena Ia berbicara atas dasar al haq.

Sosok Abdurrahman An Nashir dan Munzir ibn Said Al-Baluthi adalah permata yang sangat sulit kita jumpai zaman sekarang ini. Zaman dimana orang merasa angkuh dengan otaknya sendiri, angkuh dengan akal dan ilmu pengetahuannya. Meski semua tahu, ilmu pengetahuan tidak mampu menyelesaikan segala hal, termasuk menurunkan hujan dimusim kemarau ataupun menghentikan hujan ditengah banjir yang melanda. Alam ini ada yang punya, semesta ini ada yang menguasai, mengapa kemudian akidah kita harus tergadai ditelan pengetahuan-pengetahun yang belum jelas kebenarannya?. Islam tidak anti ilmu pengetahuan. Bahkan Islam adalah satu-satunya agama yang selalu sejalan dan sesuai dengan ilmu pengetahuan, tapi Islam tidak pernah menuhankan ilmu pengetahuan, tak pernah meletakkan wahyu dibawah akal.

Keberadaan orang-orang yang shalih, khusyu dan ikhlas adalah mahal. Bahkan, imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “kalau Aku tau, Aku punya satu doa yang pasti dikabulkan Allah, maka akan kuberikan doa itu untuk sang pemimpin, karena kebaikan seorang pemimpin adalah kebaikan untuk rakyatnya”.

Subuh nan Berkah


Adalah sebuah kenikmatan tatkala Allah Swt. membangunkan kita di kala subuh. Waktu yang begitu istimewa dimana Allah Swt. menaburkan keberkahannya. Hal ini sesuai dengan hadist shahih ketika Rasulullah Saw. berdoa untuk umatnya, “Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu fajr (subuh)”. Sahabat yang meriwayatkan hadist ini adalah seorang pedangan. Ketika selesai shalat subuh, sahabat tersebut menggelar dagangannya di pasar kemudian berdoa, “Ya Allah, aku sudah laksanakan perintahmu, kini aku berharap doa Nabimu”. Sejarah mencatat bahwa sahabat tersebut memiliki bisnis yang terus berkembang karena keberkahan waktu subuh. Makna keberkahan itu sendiri salah satunya adalah membuat harta maupun karir yang kita miliki kian tumbuh dan berkembang.

Fenomena gerakan subuh berjamaah yang mulai berkembang dan menjamur di nusantara merupakan hal yang menarik untuk mengukur kekuatan dan ketaatan kaum muslimin. Secara khusus, Allah Swt. menyebutkan nama shalat subuh (fajr) dalam surat Al-Isra ayat 78.



Oleh Rasulullah Saw., shalat subuh itu sendiri mendapat perlakuan khusus dengan membaca ayat-ayat alquran yang panjang dalam shalatnya. Bahkan dalam sebuah riwayat disampaikan bahwa Rasulullah Saw. memulai shalat subuh dalam keadaan gelap, hingga para sahabat mengatakan “kami tidak saling mengenal siapa yang berdiri di dekat kami” dan mengakhirinya pada kondisi yang sudah terang. Hingga jikalau ada seseorang yang melempar tombak, maka Rasulpun akan mengetahui dimana jatuhnya tombak tersebut.

Surat Al Isra ayat 78 diatas juga bersesuaian dengan hadist Nabi tentang pergantian malaikat diwaktu ashar dan subuh. Tatkala malaikat naik, Allah selalu bertanya, “bagaimana kau tinggalkan hamba-hambaku?”. Malaikat menjawab “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat”. Itulah salah satu keistimewaan yang Allah inginkan. Ketika malaikat membawa laporan amalan, kita selalu dalam keadaan shalat.

Kita bahkan sudah sering mendengar tentang keutamaan shalat sunat sebelum subuh. Dalam beberapa hadist disebutkan bahwasanya dua rakaat shalat sunat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Pada riwayat yang lain disebutkan dua rakaat shalat sunat sebelum Shubuh lebih baik dari unta merah yang kalian makan. Sebagaimana kita ketahui bahwa di jazirah Arab unta merah adalah kendaraan yang paling mewah. Hal ini difahami dengan baik oleh para shabat Nabi Saw, karenanya mereka selalu berlomba-lomba untuk melaksanakan shalat sunat sebelum subuh, apalagi shalat shubuh secara berjamaah.

Lihatlah bagaimana para sahabat mengintepretasikan keistimewaan shalat subuh dalam kehidupan mereka. Tersebutlah Anas bin Malik r.a., sosok sahabat yang telah bersama Rasulullah sejak usia 10 tahun, sering membantu Nabi dalam kehidupan kesehariannya. Sejarah mencatat bahwasanya Anas bin Malik r.a. Menjadi salah seorang ilmuan besar dalam Islam. Hal tersebut dikarenakan Dia merupakan orang paling mengenal aktifitas harian yang dilakukan oleh Nabi Saw. Tatkala Rasulullah Saw. wafat, Anas bin Malik r.a. pindah ke kota Basrah, Iraq. Ditahun 19 H dimasa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatab, Ia ikut dalam pengepungan kota Tustar, kota yang memiliki pertahanan yang begitu baik, berada dalam wilayah kekuasaan kaum majusi Persia saat itu. Penaklukan kota Tustar ini tidaklah mudah, karena membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk mengepungnya, dan ini bukanlah hal yang sederhana.

Dalam kelelahan pengepungan, di saat waktu shalat subuh akan segera tiba, kaum Muslimin baru berhasil membuka pintu kota sehingga mereka bisa memasukinya. Terjadilah peperangan yang sangat dahsyat, 30 ribu muslimin melawan 150 ribu pasukan kafir. Meski kalah kuantitas namun kaum muslimin selalu menang dalam hal kualitas. Inilah yang akhirnya menjadikan kaum muslimin menang.

Dikemudian hari, ternyata kejadian tersebut begitu membekas dalam diri Anas bin Malik r.a., peristiwa yang menoreh kesedihan yang begitu menyayat hati. Bahkan tatkala disebut kota Tustar Anas bin Malik r.a. tak kuasa menahan tangisannya. Kesedihan yang bukan disebabkan kemenangan ataupun kepiluan karena syahidnya kaum muslimin dalam pertempuran besar itu, namun kesedihan karena Anas bin Malik r.a. dan para sahabat lainnya baru bisa melaksanakan shalat subuh ketika matahari telah terbit. Seumur hidupnya sosok Anas bin Malik r.a. belum pernah melaksanakan shalat subuh dalam kondisi matahari telah terbit.

Imam Bukhari dalam menjelaskan hadist tentang peristiwa Tustar tersebut mengatakan bahwa kaum muslimin dibolehkan menunda shalat, dikarenakan situasi yang begitu genting dan mencekam. Namun tidak begitu yang terjadi pada sosok para sahabat yang mulia, meski dalam kajian secara fiqh hal tersebut dibenarkan tapi nilai-nilai dan keutamaan shalat subuh yang tanamkan oleh Rasul Saw. begitu istimewa dan menghujam dalam sanubari mereka. Itulah sepenggal kisah sahabat dalam memaknai pentingnya shalat subuh, begitu indah. Semoga kita dapat meneladani kehidupan mereka.

Mendidik Anak menjadi Hafis Quran


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-quran dan mengajarkannya”, hadist ini begitu mengispirasi masyarakat kota kota Banda Aceh untuk mengikuti dakwah dan seminar cinta al-quran sejak dini. Kegiatan yang prakarsai oleh Pemko Banda Aceh ini, di isi oleh pakar tahfiz al-quran International asal Mesir, Syaikh Kamil El Laboudi bersama anaknya Yazid Kamil El Laboudi, yang merupakan pemecah rekor 30 juz hafiz cilik dunia.

Dalam seminarnya, syaikh Kamil El Laboudi menyampaikan bahwasanya Ayah dan ibu memegang peranan penting dalam menjadikan anak sebagai hafizd. Beliau juga berbagi kiat sehingga berhasil mendidik anak-anaknya menjadi para penghafal al-quran.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita lakukan untuk menjadi anak-anak kita sebagai penghafal al-quran.
  1. Tanamkan niat ikhlas mencari ridha Allah dan berlindung kepadanya. Memohon pertolongan-Nya agar anak dapat menghafal al-quran dengan sempurna. Berikan penjelasan kepada anak tentang pentingnya hal tersebut dengan gambaran dan bahasa yang bisa dia fahami.
  2. Luangkan waktu untuk berdoa pada waktu-waktu mustajab.
  3. Tentukan waktu khusus yang sama setiap harinya untuk menghafal. Sebaiknya waktu tersebut tidak berdekatan dengan kegiatan pokok lainnya. Setiap hari dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman seperti kurma madu dan susu.
  4. Sediakan kotak hadiah yang dibungkus dengan warna yang indah dan bertuliskan hadiah-hadiah al-qur'an. Hadiah-hadiah tersebut adalah hadiah-hadiah yang disukai oleh anak-anak. Sediakan tiga macam, pertama yang sangat dia sukai kedua yang dia sukai dan ketiga yang biasa. Hendaklah kotak-kotak hadiah tersebut diletakkan di tempat yang terlihat tinggi dan jauh dari jangkauan anak-anak serta mereka tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Biarkan anak memilih hadiah dari kotak yang tersedia setelah sempurna hafalannya serta mereka membaca tiga kali berturut-turut tanpa melihat mushaf.
  5. Sediakan tempat yang cocok di mana anak bisa berkonsentrasi dan jauh dari gangguan gangguan. Ketika waktu tanda belajar dimulai, ayah dan ibu duduk bersama anak kemudian memulai pelajaran pertama dengan cara menyaksikan dan mendengarkan rekaman Murottal al-quran dari imam-imam besar, seperti Syekh Al husary, Syeikh Al Misawi, Syekh Muhammad Ayub dan syaikh Al hudzaifi. Lakukan berulang-ulang 1 ayat Kemudian beberapa ayat.
  6. Memulai hafalan dari surat An-Naba sesuai kemampuannya. Tapi mereka harus punya target hafalan sempurna dan bertambah setiap minggu secara berurutan. Ketika anak membacanya berulang-ulang 1 ayat dan beberapa ayat, kita bisa meliat daya serap anak-anak. Tentu akan berbeda sesuai kemampuan bicara dan umurnya. Kadang kala kita akan menjumpai kesulitan menghubungkan antar ayat dengan mengikuti rekaman sebagaimana disebutkan dalam langkah nomor 5. Untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menyaksikan dan mendengarkan rekaman al-qur'an Murottal yang lebih cepat seperti bacaan Syekh Sudais, Syeikh Shuraim dan Syekh Saad Al-Ghamidi sehingga tersambung kembali antar yang terputus dengan ayat-ayat yang dipelajari hari itu.
  7. Langkah setelah belajar, berikan hadiah kepada anak setelah membaca tiga kali untuk membangun motivasi dan diiringi penjelasan tentang urgensi dan ganjaran menghafal Alquran baik di dunia maupun akhirat. Urgensi ini harus disampaikan dengan bahasa yang ringan untuk membangun kecintaan bukan menakut-nakuti. Akhiri pelajaran hari itu dengan doa agar diberi kemantapan hafalan dan diberi kemampuan mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab-kitab Allah, lalu anak-anak mengaminkannya.

Demikian kiat-kiat menjadikan anak sebagai penghafal al-quran. Semoga bermanfaat dan silahkan mencoba.